TEORI PEMBELAJARAN PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA

Pengertian
teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera. Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang. Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).


Teori Kognitif

Model pemrosesan informasi ini didasari oleh teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan peserta didik memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan Informasi merujuk pada cara mengumpu-lkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep, dan menggunakan simbol verbal dan visual. Ilmu kognisi (cognitive science) merupakan kajian mengenai inteligensi manusia, program computer, dan teori abstrak dengan penekanan pada perilaku cerdas, seperti perhitungan (Simon&Kaplan, 1989).

Menurut Mayer (2009:64), asumsi yang mendasari teori kognitif tentang multimedia learning, yakni dual-channel (saluran ganda), limited capacity (kapasitas terbatas), dan active-processing (pemrosesan aktif). Asumsi saluran ganda (dual-channel assumption) menyatakan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi auditori. Informasi berupa kata-kata diterima oleh mata dan telinga, sedangkan gambar diterima oleh mata yang merupakan memori sensorik. Setelah diseleksi oleh memori sensorik, informasi diteruskan ke memori kerja. Di dalam memori kerja, informasi diorganisasikan untuk diintegrasikan yang selanjutnya diteruskan ke memori jangka panjang. Kedua saluran tersebut diilustrasikan dalam Gambar 1.



Teori pemrosesan informasi /kognitif dipelopori oleh Robert Gagne (1985). Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Pembelajaran merupakan keluaran pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia.

Selain itu memori jangka panjang manusia berisi gambaran-gambaran dari berbagai macam pengenalan pola yang menghasilkan beberapa teori, yaitu:

Teori Template

Teori Template mengusulkan bahwa pola-pola tidak “diuraikan”semua. Template

adalah suatu kesatuan yang holistic atau tidak dapat dianalisis yang kita bandingkan dengan pola lainnya dengan mengukur seberapa banyak kedua pola dapat dicocokkan atau saling melengkapi. Kelemahan dari teori template membuat teori tersebut kurang menjanjikan untuk dijadikan teori umum pengenalan pola biasanya akan cepat hilang.

Teori Ciri

Teori Ciri (Feature Theory) memungkinkan untuk menggambarkan sebuah pola dengan membuat bagian-bagiannya. Teori Ciri tepat sekali untuk menggambarkan perceptual learning (pembelajaran percep-tual) dan salah satu diskusi terbaik mengena
teori cirri terdapat Principle Of Preceptual Learning and Development dari Gibson (1969). Teori Gibson menyebutkan bahwa epembelajaran perceptual terjadi melalui penemuan ciri-ciri yang membedakan satu pola dengan pola lainnya. Meskipun kebanyakan teoritikus pengenalan pola menggunakan konsep ciri, namun sering kali untuk menemukan seperangkat ciri yang baik merupakan tugas yang menantang Gibson (1969) mengajukan kriteria berikut sebagai dasar dalam menyeleksi seperangkat ciri dari huruf besar, yaitu:

1. Ciri haruslah merupakan cirri yang paling penting sehingga terlihat berbeda.

2. Identitas dari cirri tersebut harus tidak berubah-ubah ketika terjadi perubahan kecepatan keterangan, ukuran, dan perspektif.

3. Ciri tersebut harus menghasilkan pola yang unik untuk setiap huruf.

4. Jumlah ciri yang diajukan haruslah sedikit.

Teori Struktural (structural theory) :

Suatu teori menentukan bagaimana ciri dari sebuah pola bergabung dengan ciri dari pola tersebut dan menekankan pada hubu-ngan antar ciri menurut Clowes (1969). Teori Struktural memperluas teori ciri-ciri dengan mengkhususkan bagaimana ciri-ciri tersebut berhubungan. Sutherland (1968) adalah salah seorang yang pertama-tama ber-pendapat bahwa jika kita ingin memiliki kemampuan dalam pengenalan pola yang sangat mengesankan, maka kita membu-tuhkan jenis bahasa deskriptif yang lebih kuat yang terkandung dalam teori structural. Eksperimen bagian ini menunjukkan bahwa Sutherland benar.

Teori Teknik Penyebutan-Sebagian

1. Model Sperling

Pada tahun 1963 Sperling mengajukan model pemrosesan informasi atas performa tugas penyebutan visual dalam peneli-tiannya.Model Sperling adalah orang yang pertama-tamamengkonstruksi model awal pemrosesan informasi pada pengenalan objek visual. Masalah umum dalam mengkonstruksi model pemrosesan informasi adalah mengidentifikasi penyebab keterba-tasan performa dalam pelaksanaan suatu tugas. Model tersebut terdiri atas:

a. penyimpanan informasi visual (visual information store atau VIS) merupakan penyimpanan sensori yang menjaga informasi selama waktu yang singkat dari pecahan detik hingga satu detik,

b. pengulangan (rehearsal), yaitu mengatakan huruf-huruf pada diri sendiri)

c. penyimpanan informasi auditori (auditor information store), yaitu mengingat nama huruf.

2. Model Rumelhart

Tahun 1970, Rumelhart mengajukan model matematis yang detail mengenai performa pada tugas pemrosesan informasi yang memiliki jangkauan yang luas, meliputi prosedur penyebutan-keseluruhan dan prosedur penyebutan-sebagian yang diteliti oleh Sperling. Model Rumelhart dibangun dengan asumsi kunci model Sperling, seperti pentingnya penyimpanan informasi visual dan penggunaan scan parallel untuk mengenali pola.

Teori Leher Botol

Teori yang mencoba menjelaskan bagaimana orang menyeleksi informasi ketika beberapa tahap pemrosesan informasi menjadi kelebihan beban dengan terlalu banyak informasi. Teori Leher Botol dibagi menjadi beberapa model, yaitu:

1. Model Penyaringan dari Broatbent, yaitu: Bahwa Sebuah Fenomena leher botol terjadi: dalam tahap pengenalan pola dan bahwa perhatian menentukan informasi mana yang akan mencapai tahap pengenalan pola.



2. Model Pelemahan dari Treisman, yaitu: Treisman (1960) menemukan efek konstektual (contextual effect) bahasa yang dapat menyebabkan subjek menyebutkan kata-kata pada saluran yang diabaikan, sehingga membuat bayangan dengan tidak tepat.


3. Model Seleksi Memori dari Deutsh-Norman: Model ini berasumsi bahwa kata-kata pada dua percakapan dapat dikenali, namun terlupakan dengan cepat, kecuali kata-kata tersebut penting.

Teori Kapasitas

Berasumsi bahwa seseorang memiliki control atas alokasi penggunaan kapasitas yang terbatas untuk melakukan tugas yang berbeda, Misalnya Seseorang biasanya mengendarai sebuah mobil sambil bercakap pada saat yang sama jika kedua aktivitas tersebut tidak melebihi kapasitas kita untuk melakukan dua tugas yang berbeda.

Teori Pemrosesan Otomatis (Automatic
Processing)

Beberapa teori berpendapat bahwa kebanyakan hal yang kita lakukan tidak ditentukan oleh pilihan-pilihan disengaja, tetapi lebih ditentukan oleh ciri-ciri lingkungan yang mengawali proses mental yang berlangsung di luar kesadaran (Barg&Chatrand, 1999). Salah satu karak-teristik pemrosesan otomatis adalah terjadi tanpa disadari. Akuisisi pemrosesan oto-matis sering kali menguntungkan karena melakukan aktivitas rutin tanpa perlu banyak konsentrasi dan usaha mental. Walaupun demikian, pemrosesan otomatis juga tidak menguntungkan, yaitu seseorang jadi kurang berfikir tentang apa yang dilakukan, sehingga mungkin akan melakukan kesalahan konyol atau gagal mengingat apa yang telah dilakukan. Posner dan Snyder (1975) telah menyatakan bahwa ada tiga criteria untuk menentukan apakah suatu keterampilan bersifat otomatis. Suatu keterampilan disebut otomatis apabila : terjadi tanpa disengaja; tidak membangkit-kan kesadaran; tidak terganggu aktivitas mental yang lain.

Tahun 1979, Hasher dan Zacks mengajukan teori mengenai pengodean otomatis yang memaparkan perbedaan antara dua jenis aktivitas memori, yaitu : Yang membutuhkan banyak usaha atau kapasitas, yang hanya membutuhkan usaha atau kapasitas sedikit sekali atau bahkan tidak sama sekali. Aktivitas yang pertama atau proses yang membutuhkan usaha meliputi bermacam strategi untuk mening-katkan memori, seperti imagery visual, elaborasi, pengorganisasian, dan mengulang secara verbal; Pemrosesan otomatis yang mendukung pembelajaran incidental (incidental Learning), yaitu ketika secara tidak sadar berusaha mempelajari sesuatu. Hasher dan Zacks menyatakan bahwa kita dapat secara otomatis merekam informasi frekuensi, spasial, dan temporal tanpa sengaja menyimpan jejak informasi ini. Infornasi Frekuensi adalah data yang mengkhususkan pada seberapa sering suatu stimulus berbeda terjadi.

Klaim bahwa ketiga jenis informasi tersebut dapat direkam secara otomatis dalam memori tidak dapat diuji kecuali kita menetapkan implikasi pemrosesan otomatis. Hasher dan Zacks mengajukan lima criteria yang membedakan antara pemrosesan otomatis dan pemrosesan yang membu-tuhkan usaha. Prediksi tersebut, yaitu:

a. Pembelajaran disengaja versus pembel-ajaran incidental: Pembelajaran disengaja terjadi ketika seseorang secara bebas mencoba belajar sesuatu; Pembelajaran incidental terjadi ketika seseorang tidak mencoba untuk mempelajari sesuatu. Pembelajaran incidental dapat seefektif pembelajatan yang disengaja untuk memprosesan otomatis, namun kurang efektif untuk pemrosesan yang membutuhkan usaha.

b. Efek dari instruksi dan latihan: Instruksi mengenai cara dalam melaksanakan suatu tugas dan latihan dalam melakukan suatu tugas pastinya tidak berdampak pada pemrosesan otomatis karena dapat dilakukan secara efisien.

c. Gangguan tugas: Pemrosesan otomatis seharusnya tidak saling mengganggu karena hanya membutuhkan sedkit kapasitas atau tidak sama sekali.

d. Semangat yang rendah atau tinggi: Kondisi emosi seperti semangat yang rendah atau tinggi dapat menurunkan keefektifan pemrosesan yang butuh usaha. Pemrosesan otomatis seharusnya tidak terpengaruh oleh kondisi emosi.

e. Tren perkembangan: Pemrosesan otoma-tis menunjukkan sedikit perubahan pada

usia.

Jika Hasher dan Zacks (1979) benar, maka ingatan akan informasi frekuensi, temporal dan spasial tidak akan terpengaruh oleh pembelajaran disengaja versus tidak sengaja atau incidental, latihan, gangguan tugas, rendah tingginya semangat, dan tren perkembangan. Salah satu keterampilan kognitif yang paling banyak dihadapi anak kecil adalah belajar membaca. Belajar membaca memerlukan banyak komponen keterampilan. Anak-anak harus menganali-sis ciri-ciri huruf, mngombinasikan ciri-ciri tersebut untuk mengidentifikasi huruf, mengubah huruf ke dalam suara untuk mengucapkan kata, memahami makna kata secara tersendiri, dan mengombinasikan makna kata untuk memahami bacaan. Menurut sebuah teori yang diajukan oleh LaBerge dan Samuels (1974), kemampuan memproleh keterampilan yang kompleks dan multikomponen seperti kemampuan membaca tergantung pada kapabilitas pemrosesan otomatis.

Teori Memori

Sebuah teori memori yang diusulkan oleh Atkinson danShiffrin(1968, 1971)yang menekankan pada interaksi antara penyim-panan sensoris, memori jangka pendek, dan jangka panjang (LTM). Memori Jangka pendek sebagai komponen dasar kedua dalam sistem Atkinson dan Shiffrin adalah bersifat terbatas baik dalam kapasitas maupun durasi. Informasi akan hilang dalam waktu 20-30 detik jika tidak diulang. Memori jangka panjang memiliki kapasitas yang tidak terbatas dan dapat menahan informasi dalam jangka waktu yang lebih lama, namun sering kali memerlukan usaha yang keras agar dapat memasukkan informasi ke memori ini. Fakta bahwa STM di butuhkan ketika kita menyelesaikan sebagian besar tugas-tugas kognitif mencer-minkan peran penting STM sebagai sebuah memori kerja (working memory)yang menjaga dan memanipulasi informasi.

Teori yang diajukan oleh Atkinson san Shiffrin (1968, 1971) menekankan pada interaksi antara STM dan LTM. Memori jangka penjang memiliki dua manfaat penting: Pertama, sebagaimana diketahui, kecepatan lupa jauh lebih rendah untuk LTM. Beberapa psikologi bahkan menya-takan bahwa informasi dalam LTM tidak pernah hilang meskipun kita kehilangan kemampuan untuk memanggil kembali informasi tersebut; dan LTM memiliki kapasitas yang tidak terbatas.

Meskipun demikian, tidaklah selalu mudah memasukkan informasi baru ke dalam LTM. Atkinson dan Shiffrin mengajukan beberapa proses kontrol yang dapat digunakan sebagai usaha untuk mempelajari informasi baru. Proses kontrol (control proses) adalah strategi yang digunakan seseorang untuk memfasilitasi perolehan pengetahuan. Strategi tersebut meliputi strategi akuisisi terhadap:

a. Pengulangan (rehearsal) merupakan repitisi informasi baik dengan keras maupun lirih secara terus-menerus hingga informasi tersebut berhasil dipelajari.

b. Pengodean (coding) berusaha menempatkan informasi agar dapat diingat dalam konteks informasi tambahan yang mudah diingat, seperti frase atau kalimat mnemonic.

c. Membuat gambaran (imaging) meliputi menciptakan gambaran visual agar materi lebih mudah diingat. Strategi ini merupakan trik memori lama bahkan trik ini direkomendasikan oleh Cicero di Romawi Kuno untik mempelajari daftar yang panjang atau pidato.

Pengulangan verbal biasanya dianggap sebagai suatu bentuk pembelajaran dengan sistem hafal (rote learning) karena meli-batkan pengulangan informasi secara terus-menerus sampai kita piker sudah berhasil mempelajarinya. Pengulangan verbal berguna ketika materi yang dipelajari agak abstrak yang sulit dengan menggunakan strategi pengodean atau membuat gambaran. Tugas yang didesain oleh Atkinson dan Shiffrin (1968) menuntun pembelajaran materi yang abstrak dan tidak bermakna, sehingga mendorong subjek untuk menggunakan pengulangan.

Penyebab Lupa Yang Terjadi Pada Proses Teori Interferensi Dan Teori Aus

Informasi dalam memori jangka pendek akan hilang dengan cepat kecuali dijaga dengan pemanggilan kembali informasi tersebut. Peterson dan Peterson (1959) dari Universitas Indiana membuktikan tingkat kecepatan lupa dari STM. Mereke mengetes kemampuan mahasiswa dalam mengingat tiga konsonan dalam jangka angka, mulai dari sebuah angka yang jatuh setelah konsonan. Teori-teori yang menyebabkan lupa, yaitu:

1. Teori Interferensi (Interference theory)menyatakan bahwa mengingat hal-hal lain atau melakukan tugas lain dapat mengganggu proses mengingat dan menyebabkan lupa.

2. Teori Aus (decay theory) menyatakan bahwa lupa akan tetap terjadi meskipun subjek tidak diminta untuk melakukan hal-hal lain selama jangka waktu mengingat jika subjek tidak melatih informasi tersebut.Teori aus memprediksi bahwa performa subjek akan lebih baik pada penyajian dengan kecepatan tinggi karena lebih sedikit waktu bagi informasi untuk aus dari memori.

Penemuan Waugh dan Norman mendukung pendapat bahwa interferensi penyebab utama lupa, bukan factor aus. Penemuan bahwa interferensi merupakan penyebab utama dari proses melupakan kabar baik. Jika informasi secara spontan aus dari memori, maka kita akan mampu mencegah hilangnya informasi tersebut. Jika informasi hilang dikarenakan oleh inter-ferensi, kita dapat meningkatkan ingatan dengan menstrukturisasi pembelajaran agar dapat meminimalisasi interferensi. Selain itu para psikolog sudah membedakan antara dua jenis interferensi, yaitu:

a. interferensi retroaktif (retroactive inter-ference) disebabkan oleh informasi yang terjadi setelah sebuah kejadian. Penelitian Waugh dan Norman (1965) mendemons-trasikan pengaruh interferensi retroatif, yaitu jumlah angka yang mengikuti angka pemeriksaan mempengaruhi sejauh mana angka tersebut dapat diingat dengan baik.

b. interferensi proaktif (proactive inter-ference)disebabkan oleh kejadian-kejadian yang terjadi sebelum peristiwa di mana seseorang berusaha untuk mengingat kembali. Keppel dan Under-wood (1962) sebelumnya telah mendemonstrasikan pengaruh interferensi proaktif dalam tugas STM dari Peterson dan Peterson.

Berkurangnya interferensi disebut sebagai lepas dari interferensi proaktif (from proactive interference) (D.D. Wickens, Born, &Allen, 1963). Penelitian yang dilakukan oleh Wickens dan koleganya merupakan yang pertama dari banyak penelitian yang menunjukkan bahwa mengingat kembali item berikutnya dapat ditingkatkan dengan membuatnya berbeda dengan item sebelumya. Lepas dari interferensi proaktif juga terjadi ketika orang diminta untuk mengingat kejadian yang lebih kompleks (Gunter, Clifford, &Berry, 1980). Salah satu cara terbaik untuk mengingat materi sepanjang hidup kita adalah dengan meluangkan waktu untuk mempelajarinya (Bahrick&Hall, 1991).

Engle dan Oransky (1999) menyatakan perbedaan individu dalam mengukur kapasitas memori kerja mencerminkan perbedaan dalam perhatian terkontrol dan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut akan dicerminkan hanya dalam situasi yang mendorong maupun menuntun perhatian terkontrol. Meskipun sulit bagi kita untuk membayangkan perjuangan seseorang yang mengalami kerusakan memori, kita semua iri pada seseorang yang memiliki memori eksternal yang sangat bagus dan berharap kita dapat meningkatkan memori kita sendiri. Bagi siswa, harapan ini terutama ditujukan saat mereka menghadapi ujian. Jika saja kita dapat mengingat segala sesuatu yang telah dipelajari, kita dapat melakukannya dengan jauh lebih baik. Kebutuhan untuk mengingat materi setelah
ujian kelihatannya kurang mendesak, namun bahkan dalam kasus ini, memori yang bagus tetap dapat menguntungkan.

Permasalahan
Disini menurut peterson dan peterson ada 2 teori yaitu:
1. Teori Interferensi (Interference theory)menyatakan bahwa mengingat hal-hal lain atau melakukan tugas lain dapat mengganggu proses mengingat dan menyebabkan lupa. Jadi bagaimanakah hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelupaan seorang siswa, multimedia apakah yang akan membantu dan pas untuk mencegah atau mengatasi kelupaan seperti ini?
2. Jika seorang siswa yang akan mengikuti ujian semester dan siswa tersebut telah belajar sebelum nya tentang materi yang diajarkan oleh guru nya tetapi di saat akan diadakan ujian pada esok harinya ternyata anak tersebut lupa, pada saat berjalan nya waktu ujian tersebut jadi bagaimanakah mengatasinya agar siswa cepat belajar aktif dan tidak mudah lupa media apakah yang menunjang untuk ciri-ciri siswa yang seperti itu agar tidak mudah lupa dan mudah untuk cara belajarnya?

Komentar

  1. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no.2 terkait seorang siswa yang lupa tentang materi yang pernah diajarkan. Cara mengatasinya yaitu dengan menciptakan pembelajaran yang bermakna, sebagai salah satu contoh yaitu pembelajaran berbasis masalah atau sering disebut PBL. Efek dari problem based learning lebih besar ketika penilaian menarik bagi pemahaman prinsip-prinsip yang menghubungkan konsep-konsep (Gijbels dkk, 2005). Problem based learning memiliki efek memberikan peluang yang lebih besar bagi peserta didik untuk belajar dengan keterlibatan lebih banyak dan meningkatkan partisipasi aktif siswa, motivasi dan minat di antara peserta didik. Hal ini menyebabkan peserta didik untuk memiliki sikap positif dan membantu mereka untuk meningkatkan prestasi mereka untuk sebagian besar dan yang akan menyebabkan memori jangka panjang. Untuk media penunjang harus lah media yang memudahkan siswa dalam memaknai informasi yang akan ia terima, contoh media audio ataupun visual tergantung karakteristik dari siswa itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. disini saya menambahkan pernyataan dari novi paramita, yang dimana seorang guru harus memastikan proses pembelajaran yang harus memuat 5M, yaitu: (1) mengamati; (2) menanya; (3) mengumpulkan informasi; (4) mengasosiasi; dan (5) mengkomunikasikan. dengan mengaktifkan semua indra yang dimiliki siswa dari penglihatan pendengaran, perabaan sampai ke tahap siswa melakukan secara langsung atau ikut dalam proses pembelajaran, maksudnya disini contohnya seperti memberikan tanggapan dan menjelaskan atau mencari contoh pembelajarannya di luar contoh yang guru sampaikan. semakin sering siswa itu bertemu dan berinteraksi dengan apa yang di pelajarinya, maka pelajaran yang dia peroleh akan mudah untuk diingat dalam jangka panjang.
      terkait dengan hal diatas, guru harus lebih cermat dalam menghubungkan pelajaran dengan lingkungan para siswa.

      Hapus
  2. Saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 1, dimana daya ingat setiap individu berbeda ada yang daya ingat ny kuat dan lemah, karena ada fakto internal yang mempengaruhi. Namun disini bisa digunakan media komputer dalam belajar
    Terdapat beberapa kelebihan media berbantuan komputer terkait dengan multimedia interaktif yaitu:
    1. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah secara individual.
    2. Menyediakan presentasi yang menarik dengan animasi.
    3. Menyediakan pilihan isi pembelajaran yang banyak dan beragam.
    4. Mampu membangkitkan motivasi siswa.
    5. Mampu mengaktifkan dan menstimulasi metode pembelajaran dengan baik.
    6. Meningkatkan pengembangan pemahaman siswa terhadap materi yang disajikan.
    7. Merangsang siswa mendapat pengalaman bersifat konkrit, dan retensi siswa meningkat.
    8. Memberikan umpan balik secara langsung.
    9. Siswa dapat menentukan sendiri percepatan belajarnya.
    10. Siswa dapat melakukan self evaluation

    BalasHapus
    Balasan
    1. disini saya akan menambahkan pernyataan dasi shabrina dimana tips cara untuk mengatasi keluapaan seseorang yaitu:
      1.Musik sebagai perekat daya ingat, namun ketika memadukannya dengan suatu alunan musik, maka hal tersebut mampu terekam dengan mudah ke dalam memori.
      2. Koneksikan hal asing dengan hal yang telah familiar, Salah satu cara jitu agar sambungan koneksi daya ingat tetap terjalin dengan baik adalah dengan mengaitkan hal asing atau baru dengan hal sejenis yang telah Anda kenal secara familiar di otak Anda. Sebagai contoh, jika Anda menemukan jenis kopi premium baru yang lezat namun sulit menghapal namanya, maka cukup asosiasikan dengan kopi premium lain yang sejenis, semisal kopi luwak.
      3. Belajar fokus, Cara ini disebut sebagai metode radio non-metafora. Anda dapat menggunakan televisi sebagai alat bantu, yakni dengan cara mengatur waktu nyalanya selama 3 menit dan kemudian mematikannya selama satu menit. Lakukan hal in berulang selama minimal 3 repetisi sebagai bentuk latihan daya ingat.
      4. Belajar mengingat ulang, Mulailah menganggarkan waktu setidaknya 10 menit setiap malam untuk mengingat kembali hal-hal penting yang telah Anda jadwalkan di sepanjang hari sebelumnya. Menurut Cooke, cara seperti ini mampu meminimalisir risiko lupa karena biasanya akan terbawa mimpi dalam memori jangka menengah.
      5. Menulis untuk mengingat, Manfaatkan fitur memo pada smartphone Anda untuk menulis berbagai rencana dan janji yang Anda buat. Jika suka, Anda juga dapat menambahkan fitur reminder pada setiap memo yang Anda buat agar Anda dapat diingatkan dengan mudah di waktu yang telah ditentukan.
      6. Buatlah penanda di setiap hal yang Anda kerjakan, Ambilah suatu contoh situasi ketika Anda dihadapkan pada tugas pengecekan setumpuk berkas di kantor yang memiliki kemiripan satu sama lain. Berikan tanda khusus di masing-masing berkas yang telah Anda periksa, karena pasti ada perbedaan, sekecil apapun itu, yang dapat Anda jadikan pengingat.

      Hapus
  3. baiklah saya akan menambahkan pertanyaan no 1 yang telah di jawab oleh sharina, saya setuju dengan jawaban shabrina karena multimedia komputer seperti audio vidio dapat mengurangi lupa, karena banyak dari siswa yang minat belajarnya leih meningkat dengan menggunakan vidio karena mudah di ingat, yang ingin saya tambahkan adalah dimana untuk Mengatasi Sifat Pelupa
    Sifat pelupa mungkin sangat sulit disembuhkan namun dapat diatasi secara perlahan dengan cara-cara di bawah ini:
    1. Overlearning (Belajar Lebih)
    2. Extra Study Time
    3. Mnemonic Device
    4. Pengelompokan
    5. Latihan Terbagi
    6. Perbanyak Konsumsi Omega-3
    7. Perbanyak Olahraga
    8. Buat Daftar Kegiatan
    9. Membaca Buku

    BalasHapus
  4. saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 2
    menurut saya media yang cocok adalah Media Audio Visual
    Media Audio Visual merupakan media yang mengkolaborasikan antara media visual dan audio. Jadi dalam media ini akan ada yang namanya gambar sekaligus suara pendukung. Dalam pembuatan media pembelajaran jenis ini, si developer/pengembang akan membutuhkan kerja ekstra. Salah satu jenis pekerjaan yang krusial dalam pengembangan media ini adalah penulisan naskah dan storyboard yang tentunya akan membutuhkan persiapan dan perencanaan yang matang. Naskah yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan narasi mesti sesuai dengan bahan ajar yang hendak dijelaskan kepada peserta didik. Narasi yang dibuat ini merupakan salah satu penuntun bagi si pembuat dalam memikirkan bagaimana video dapat memvisualisasikan konsep pelajaran.
    karena media audio visual ini menerapkan gambar dan suara pendukung jadi siswa lebih bisa mendengarkan sekaligus mengamati langsung . sehingga siswa lebih mudah untuk menerapkan terhadap lingtkungan sekitarnya sehingga siswa tidak mudah lupa karena siswa telah memahami pelajaran tersebut bukan hanya sekedar mengahafal

    BalasHapus
  5. Saya akan menjawab pertanyaan nomor 1.
    Yang mana multimedia yang digunakan untuk mengatasi kelupaan siswa sebenarnya banyak, contohnya jika kita menggunakan multimedia linear berupa video, di dalam video tersebut kita dapat menayangkan tidak hanya saja materi namun diberikan juga contoh materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari, biasanya jika diberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari mengenai materi tersebut, siswa akan mudah mengingatnya. Dan contoh lain, sebagai guru juga dapat membuat media interaktif berupa gabungan materi-materi yang mana materi tersebut bisa diubah dalam bentuk video ataupun dalam bentuk lainnya, sehingga jika dibuat dalam bentuk nyanyian siswa tersebut tidak mudah lupa.

    BalasHapus
  6. Saya mau menanggapi permasalah no.1
    Dalam pembelajaran yang penting adalah guru jangan memaksakan siswa untuk mengingat sesuatu karena apabila sesuatu dihapal dan dinggingat, itu jangkau waktu pendek akan cepat hilang. Jadi cara mengatasi hal tersebut, guru dapat membuat pembelajaran yang menyenangkan, memberikan penguatan materi pada akhir materi dan guru juga sering membuat kuis singkat yang membuat anak untuk cepat mengingat kembali pelajaran yang sudah dia pelajari.

    BalasHapus
  7. Untuk mengatasinya kita dapat menyampaikan materi pelajaran dengan mengaitkan dalam proses kehidupan sehari hari

    BalasHapus
  8. Menanggapi permasalahan kedua, mungkin terdapat kesalahan pada cara peserta didik tersebut belajar, karena biasanya sesuatu yang dihafal akan mudah hilang berbeda jika peserta didik tersebut memahami materi yang dipelajari.

    BalasHapus
  9. Menjawab permasalahan kedua
    Menurut saya dengan memberikan media yg dpat diulang siswa untuk dipelajari dan terus melakukan evaluasi agar siswa terus mengulang pembelajaran dan dapat mengingatnya dengan baik

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini